
Proyek jalan baru menuju Banjar Tebuana, Desa Taro, Kabupaten Gianyar, kembali mengalami longsor setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Material tanah dilaporkan ambrol pada tebing di sisi jalur dengan ketinggian sekitar ±50 meter, sehingga akses jalan harus ditutup sementara demi alasan keselamatan. Longsor ini menambah catatan gangguan pada proyek pembukaan akses baru yang sebelumnya juga sempat mengalami kejadian serupa, terutama saat curah hujan meningkat. Warga setempat menyebut kondisi tanah yang labil dan kemiringan tebing menjadi faktor yang membuat jalur ini rawan terdampak pergerakan tanah ketika hujan berlangsung cukup lama. Penutupan sementara dilakukan untuk mencegah risiko kecelakaan, mengingat material longsor berpotensi terus bergerak apabila hujan kembali turun atau terjadi getaran kendaraan di sekitar lokasi. Selain menghambat mobilitas warga yang biasa melintas, kejadian ini juga memunculkan kekhawatiran terkait keselamatan pekerjaan di lapangan serta ketahanan konstruksi jalur baru yang masih dalam tahap pengembangan.
Peristiwa longsor di jalur menuju Banjar Tebuana terjadi di tengah meningkatnya intensitas hujan di sejumlah wilayah Gianyar dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut mendorong aparat desa dan pihak terkait untuk memperketat pemantauan, terutama pada titik-titik tebing yang rawan ambrol. Masyarakat diimbau tidak memaksakan diri melintasi jalur yang ditutup, serta mengikuti arahan petugas di lapangan guna menghindari risiko tertimbun material longsor. Pemerintah desa diharapkan segera melakukan koordinasi dengan instansi teknis untuk melakukan penanganan darurat, termasuk pembersihan material, pemasangan rambu peringatan, serta penilaian struktur lereng agar tidak terjadi longsor susulan. Dalam situasi seperti ini, langkah mitigasi menjadi krusial mengingat jalur baru umumnya belum memiliki penguatan lereng yang optimal di seluruh titik, sementara curah hujan berpotensi terus berlangsung. Penerapan sistem drainase yang baik dan penataan lereng yang sesuai standar teknis menjadi kebutuhan penting agar pembangunan jalan baru tidak berulang kali mengalami gangguan akibat faktor alam.

Selain longsor di Desa Taro, peristiwa serupa juga terjadi di jalur Payangan–Tegallalang, tepatnya di Banjar Tatag. Longsor sempat menutup akses jalan dan menghambat arus kendaraan, namun penanganan cepat dilakukan sehingga jalur kembali dapat dilalui. Pembersihan material longsor dilakukan secara gotong royong oleh aparat desa bersama unsur TNI, Polri, dan warga setempat. Proses pembersihan difokuskan pada pembukaan akses kendaraan dan pembuangan material tanah ke lokasi aman agar tidak kembali menutup badan jalan saat hujan berikutnya. Kolaborasi lintas unsur ini dinilai efektif untuk mempercepat pemulihan akses, terutama mengingat jalur Payangan–Tegallalang merupakan salah satu rute penting yang menghubungkan mobilitas masyarakat antarwilayah di Gianyar. Kejadian ini sekaligus memperlihatkan bahwa ancaman longsor masih tinggi di kawasan perbukitan dan lereng, terutama pada musim hujan dengan intensitas tinggi.
Rangkaian kejadian longsor di Gianyar menjadi pengingat bahwa kondisi geografis wilayah yang didominasi perbukitan, tebing, dan tanah berlereng memerlukan kewaspadaan ekstra, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat upaya mitigasi bencana dengan memetakan titik rawan longsor, memasang rambu peringatan di jalur-jalur kritis, serta menyiapkan langkah tanggap darurat yang cepat. Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk lebih waspada saat berkendara, terutama pada malam hari atau ketika hujan turun deras, karena longsor kerap terjadi secara tiba-tiba. Untuk jalur menuju Banjar Tebuana, warga menunggu tindakan penanganan teknis agar akses dapat dibuka kembali dengan aman, sekaligus memastikan lereng yang ambrol mendapatkan penguatan yang memadai. Dengan koordinasi yang solid antara pemerintah desa, aparat keamanan, dan instansi teknis, diharapkan penanganan longsor dapat dilakukan lebih cepat dan risiko kejadian berulang dapat ditekan.
Kondisi cuaca yang belum stabil juga menjadi faktor yang membuat situasi masih perlu dipantau ketat. Masyarakat diminta untuk terus mengikuti informasi resmi dari pemerintah desa atau instansi terkait terkait perkembangan penanganan longsor dan status pembukaan akses jalan. Apabila hujan kembali meningkat, potensi longsor susulan tetap terbuka, sehingga langkah antisipatif seperti menghindari jalur rawan dan memilih rute alternatif menjadi pilihan paling aman. Pemerintah daerah juga diharapkan mengevaluasi aspek perencanaan dan konstruksi pada proyek jalan baru menuju Banjar Tebuana, terutama pada penguatan struktur tebing dan sistem drainase, agar akses yang dibangun benar-benar aman digunakan dalam jangka panjang.

















Komentar