
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan hujan lebat disertai angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada 20–21 Januari 2026 dipicu oleh kombinasi beberapa faktor dinamika atmosfer. BMKG menyebut, pengaruh monsun Asia menjadi salah satu pemicu utama, yang kemudian diperkuat oleh adanya konvergensi angin serta pasokan kelembapan udara yang tinggi. Kondisi atmosfer yang basah bahkan terpantau hingga lapisan 200 milibar, sehingga mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan intensitas tinggi disertai hembusan angin kencang. Fenomena ini selaras dengan karakter cuaca pada puncak musim hujan, ketika aliran monsun dan pertemuan massa udara sering memicu pembentukan awan hujan dalam skala luas maupun lokal yang intens.
BMKG menilai kombinasi monsun Asia dan konvergensi angin berperan memperkuat proses pengangkatan massa udara, sehingga mempercepat pembentukan awan konvektif seperti Cumulonimbus yang kerap memicu hujan lebat, petir, dan angin kencang dalam durasi tertentu. Pada periode 20–21 Januari 2026, kondisi tersebut menyebabkan sejumlah wilayah mengalami hujan dengan intensitas tinggi yang dapat disertai penurunan jarak pandang, gelombang tinggi di perairan selatan Bali, serta potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, pohon tumbang, dan longsor di wilayah rawan. BMKG mengingatkan bahwa pola cuaca seperti ini bisa terjadi berulang selama musim hujan, terutama ketika suplai uap air meningkat dan terjadi belokan atau perlambatan angin di sekitar wilayah Bali.

Salah satu indikator kuatnya kondisi angin tercermin dari pengamatan di Stasiun Meteorologi Ngurah Rai, Bali Selatan. BMKG mencatat kecepatan angin maksimum mencapai 38 knot atau sekitar 70,3 km/jam, yang masuk dalam kategori angin kencang. Kecepatan tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pada aktivitas masyarakat, terutama di wilayah pesisir dan daerah terbuka, termasuk risiko pohon tumbang, kerusakan ringan pada bangunan, serta gangguan pada penerbangan atau pelayaran apabila terjadi bersamaan dengan cuaca buruk. BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruang saat hujan lebat dan angin kencang, menghindari berteduh di bawah pohon atau baliho, serta mengamankan benda-benda yang mudah terbang atau roboh akibat terpaan angin.
BMKG juga meminta masyarakat untuk aktif memantau pembaruan informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi, termasuk prakiraan cuaca harian dan informasi potensi cuaca ekstrem. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan memperkuat kesiapsiagaan, terutama pada titik rawan banjir dan longsor, serta memastikan respons cepat apabila terjadi dampak lanjutan. Dengan meningkatnya aktivitas monsun Asia dan kondisi atmosfer yang masih mendukung pembentukan awan konvektif, BMKG menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan agar aktivitas masyarakat dapat berlangsung aman dan risiko bencana dapat diminimalkan.











Komentar